Minggu, 17 April 2011

Part 2


Widy tersenyum menatapnya, dia… hm... tidak cukup satu kata untuk menggambarkan perasaan Widy padanya. Dia tinggi, baik, manis, tampan? Tak usah ditanya. Widy mempunyai perasaan bahwa ia juga menyukainya, semoga saja lebih dari itu. Dia –Kevin Aprilio- mengajaknya ke café di Jakarta Selatan, tanpa basa-basi lagi WIdy langsung saja menyambarnya. Mereka masih memakai seragam sekolah, tapi itu tentu tidak dipikirkan yang penting mereka jalan, sudah cukup.
“Wit, balik yuk.” Ujar Kevin Widy tersadar dari transnya “Hmm? O.. ok… yuk!” Kevin tersenyum oleh sikapnya, Widy buru-buru mengambil tasnya untuk menyembunyikan panas di pipinya.
-
-
-
-
-
WIdy merebahkan (melempar) tubuhnya ke atas kasur, hari yg menyenangkan untuknya. Ia bisa lebih dekat dengan Kevin. Sebenarnya… Kevin itu mantan sahabatnya.. Vina. Kevina… hahahhaha, itu julukan mereka berdua dulu saat masih jadian, tp skr sudah tidak. Vina pun membiarkan Kevin dengan Widy, karena Vina tau WIdy lebih mencintai Kevin. Makanya, ia memutuskan Kevin dan membiarkan Widy mendekatinya. Mengingat semua itu, Widy jadi terharu. Vina sendiri sekarang sedang berpacaran dengan Tryan. Jadi, Widy tidak terlalu merasa bersalah padanya, Vina sahabat yg baik.
Widy mengganti bajunya, bergegas turun ke lantai bawah rumahnya yg besar. Makan siang, sendiri seperti biasa. Orangtuanya sibuk, Widy juga tidak tau mereka dimana, entah bekerja di Paris, Amerika, Jepang, Bogor sekalipun ia tidak terlalu peduli. Peduli sih… Cuma Widy hanya ingin membiasakan diri, ia berencana jika sudah 20 tahun ia akan pergi dari rumah entah ke luar kota ataupun luar negeri dan ia akan mencari kerja, punya rumah, bayar kuliah, dan punya mobil dengan uangnya sendiri.
Sebentar lagi liburan sekolah, saking baiknya SMA tempat Widy bersekolah liburan sekolah Widy berjalan selama 1 bulan. Kurang baik apa coba? Satu minggu sebelum liburan, benar-benar membosankan. Pulang cepat, di sekolah bebas. Hhh…. Widy lebih suka menghabiskan waktu membaca atau main basket. Tapi jika seperti itu setiap hari bisa-bisa tingginya melebihi pohon kelapa.
Hp Widy berbunyi nama “Adhan” tertera di atasnya, “Hallo.” Ucap Widy. “Wideeeeeeeeeeehhhh, jalan yuk!!!!” bukan suara adhan yg menjawab, tp disana sepertinya Chacha yg berbicara. “Iya iya. Kemana? Maunya kemana lu cha? Ada berapa orang disana? Kok lu pake nomer adhan?” Tanya WIdy. “Disini ada gw, Chacha, Kevin, Iyon, sama Honesta.” Adhan yg menjawab sekarang. Widy mendengus, Honesta? Hahahaha, dia salah satu teman laki-laki favorite Widy. Orangnya menyenangkan! “Ok, ok. Kalian dimana? Dhan, jemput gw dong!.” Tawar Widy. “Ok.” Telpon di tutup Adhan.
Widy masuk ke kamar mandinya dan siap-siap, waktu menunjukan jam 15:00. Widy lupa memberitahu Adhan kapan harus menjemputnya, tapi ya sudah *angkatbahu*
-
-
-
-
-
Bell berbunyi, Widy yg sudah siap-siap memakai dress selutut berwarna Lavender membukakan pintunya.
Widy memerah
Lemas
Malu
Bingung
Salting
Oh Tuhan… Kevin yang menjemputnya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
­_TO BE CONTINUE_



A/N: Ok, mungkin cerita ini membosankan (banget) jd, maaf ya. Masih belum ada konfliknya pula, oh iya... Cerita ini FLASHBACK. Beberapa nama disini bukan aku yg bikin, ini nama2 Vierrania yg aku pnjem namanya:
@vinayipi @adhankdw @Zion_Iyon @Honesta_WH. Itu nama2 twitter mereka ^^ enjoy^^. 

Minggu, 10 April 2011

Kamu...

Part 1

Widy duduk termenung di beranda rumahnya, dia kelihatan lelah, terlihat seperti menahan sesuatu yang telah lama disimpan. Dia orang yang tidak terbuka, tidak pernah cerita pada siapapun tentang bagaimana perasaan dia setelah ditinggal olehnya….
Dia...
orang yang telah menyianyiakan hatinya, perasaannya, dirinya.
Dia…

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Hari ini ku akan menyatakan cinta… Nyatakan cinta…. Hp Widy berbunyi, ia mengangkatnya “Hallo.” “wit? Ini Chacha, wah… nomer lu masih aktif ternyata. Gw ga nyangka, rrrr… ngomong-ngomong kita jalan yuk! Udah lama nih kita ga jalan bareng.” Tawar Chacha. “Chacha? Yaampun udah lama banget kita ga ketemu. Yuk, dimana?” Tanya Widy. “Di Café tempat kita dulu aja. Inget kan?” “Ok.” Widy menutup sambungannya. Tempat itu…
 -
“Halo, wit.” Laki-laki itu menganggukan kepala sambil tersenyum dan duduk di sebelah Widy. Perempuan mana yang tidak meleleh melihat tatapannya, Widy termasuk di antaranya. Widy tersenyum sebagai jawaban…
 -
Laki-laki itu pergi… widy menangis sejadi-jadinya… memanggil-manggil namanya. Tapi ia tidak berbalik, meninggalkan Widy di pantai itu…
 -
Widy menggelengkan kepalanya, bukan saat yang tepat untuk mengingat kejadian itu. Widy segera merapikan bajunya dan berangkat ke tempat Chacha.
 -

-
 Widy memakai baju biru selutut, rambutnya di kepang. Belakangnya dibiarkan terurai. Singkatnya… CANTIK. “Cha.” Kata Widy sambil tersenyum. “Widy, yaampun. Lo udah berubah banget, sejak… sejak… dulu.” Kata Chacha sambil memeluknya. Widy hanya tersenyum pahit, chacha hampir saja keceplosan mengungkit masalah yang dulu, yang dulu berhasil di pendamnya.

Dulu…

‘Widy… jangan di inget-inget lagi!’ pikir Widy. Entah kenapa sejak tadi pagi, pikirannya kacau. Dia terus memikirkan laki-laki brengsek yang berani-beraninya menghancurkan hatinya, cintanya, yang berharga. Chacha sedari tadi memperhatikan Widy, ia khawatir… khawatir jika Widy seperti dulu lagi. Widy pergi dari rumahnya, dia tidak kabur. Hanya pergi, pergi ke luar kota jauh dari rumahnya yang dulu. Widy di Bandung sekarang, berusaha melupakan apa yang terjadi saat dia berlibur di Hapuna, Hawaii. Biasanya tempat itu menjadi tempat yang paling indah di dunia, apalagi untuk pasangan kekasih. Biasanya…  tapi tidak untuk dia. Widy menghela napas, Chacha hanya memperhatikannya sejak tadi. “Wit, makanannya udah datang.” Ujar Chacha gugup. Bagaimana ia tidak gugup? Widy diam terus sejak tadi, laki-laki itu mengubah segalanya. Dasar! Chacha jadi benci padanya. Chacha memang tidak tau bagaimana cerita mereka… tapi… dia sebagai sahabat Widy menjadi prihatin dengan keadaan Widy. Tapi, jika ia menjelek-jelekan laki-laki itu. Widy marah, Widy bilang ia tidak tau apa-apa. Memang benar sih… tapi kan… hhhh… andai Widy mau bercerita padanya.

Widy memandang Chacha sambil tersenyun “iya.” Chacha memegang tangannya. Widy melihat ke arahnya “Iya?” “Wit, lu kenapa? Gw mungkin bukan siapa-siapa elo. Tapi wit, please… cerita ke gw.” Widy menghela napas. Mungkin, ia memang harus menceritakan semuanya. “Ok, Jadi…

_TO BE CONTINUE_