Part 1
Widy duduk termenung di beranda rumahnya, dia kelihatan lelah, terlihat seperti menahan sesuatu yang telah lama disimpan. Dia orang yang tidak terbuka, tidak pernah cerita pada siapapun tentang bagaimana perasaan dia setelah ditinggal olehnya….
Dia...
orang yang telah menyianyiakan hatinya, perasaannya, dirinya.
Dia…
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Hari ini ku akan menyatakan cinta… Nyatakan cinta…. Hp Widy berbunyi, ia mengangkatnya “Hallo.” “wit? Ini Chacha, wah… nomer lu masih aktif ternyata. Gw ga nyangka, rrrr… ngomong-ngomong kita jalan yuk! Udah lama nih kita ga jalan bareng.” Tawar Chacha. “Chacha? Yaampun udah lama banget kita ga ketemu. Yuk, dimana?” Tanya Widy. “Di CafĂ© tempat kita dulu aja. Inget kan?” “Ok.” Widy menutup sambungannya. Tempat itu…
-
“Halo, wit.” Laki-laki itu menganggukan kepala sambil tersenyum dan duduk di sebelah Widy. Perempuan mana yang tidak meleleh melihat tatapannya, Widy termasuk di antaranya. Widy tersenyum sebagai jawaban…
-
Laki-laki itu pergi… widy menangis sejadi-jadinya… memanggil-manggil namanya. Tapi ia tidak berbalik, meninggalkan Widy di pantai itu…
-
Widy menggelengkan kepalanya, bukan saat yang tepat untuk mengingat kejadian itu. Widy segera merapikan bajunya dan berangkat ke tempat Chacha.
-
-
Widy memakai baju biru selutut, rambutnya di kepang. Belakangnya dibiarkan terurai. Singkatnya… CANTIK. “Cha.” Kata Widy sambil tersenyum. “Widy, yaampun. Lo udah berubah banget, sejak… sejak… dulu.” Kata Chacha sambil memeluknya. Widy hanya tersenyum pahit, chacha hampir saja keceplosan mengungkit masalah yang dulu, yang dulu berhasil di pendamnya.
Dulu…
‘Widy… jangan di inget-inget lagi!’ pikir Widy. Entah kenapa sejak tadi pagi, pikirannya kacau. Dia terus memikirkan laki-laki brengsek yang berani-beraninya menghancurkan hatinya, cintanya, yang berharga. Chacha sedari tadi memperhatikan Widy, ia khawatir… khawatir jika Widy seperti dulu lagi. Widy pergi dari rumahnya, dia tidak kabur. Hanya pergi, pergi ke luar kota jauh dari rumahnya yang dulu. Widy di Bandung sekarang, berusaha melupakan apa yang terjadi saat dia berlibur di Hapuna, Hawaii. Biasanya tempat itu menjadi tempat yang paling indah di dunia, apalagi untuk pasangan kekasih. Biasanya… tapi tidak untuk dia. Widy menghela napas, Chacha hanya memperhatikannya sejak tadi. “Wit, makanannya udah datang.” Ujar Chacha gugup. Bagaimana ia tidak gugup? Widy diam terus sejak tadi, laki-laki itu mengubah segalanya. Dasar! Chacha jadi benci padanya. Chacha memang tidak tau bagaimana cerita mereka… tapi… dia sebagai sahabat Widy menjadi prihatin dengan keadaan Widy. Tapi, jika ia menjelek-jelekan laki-laki itu. Widy marah, Widy bilang ia tidak tau apa-apa. Memang benar sih… tapi kan… hhhh… andai Widy mau bercerita padanya.
Widy memandang Chacha sambil tersenyun “iya.” Chacha memegang tangannya. Widy melihat ke arahnya “Iya?” “Wit, lu kenapa? Gw mungkin bukan siapa-siapa elo. Tapi wit, please… cerita ke gw.” Widy menghela napas. Mungkin, ia memang harus menceritakan semuanya. “Ok, Jadi…
_TO BE CONTINUE_
Singkat, Jelas, Padat. Ga ada yg lebih panjang lagi nuk? ¬_¬
BalasHapusAdhan: berani bayar berapa kamu suruh saya bkin cerita panjang2?
BalasHapus